Friday, October 19, 2018

REDACTIVE



REDACTIVE

Muhammad Rizki Aulia Rahman, atau biasa dipanggil dengan Rizki lahir di Bandung, 7 Desember 1998. Ia merupakan anak pertama dari empat bersaudara. Ia adalah salah satu mahasiswa jurusan Ilmu Komunikasi Telkom University angkatan 2017 yang mempunyai bakat di bidang olahraga futsal. Awal dari perjalanan bakat Rizky di bidang futsal, diawali dari lapangan sepak bola besar. Sejak umur  7 tahun ia sudah mulai mengikuti kelas sepak bola dan setelah kelas 4 SD  sudah mulai mewakili antar sekolah untuk mengikuti pertandingan lomba tingkat kabupaten  dan provinsi hingga berlanjut  sampai dengan sekarang.

Saat duduk di kelas 2 SMA ia memutuskan untuk keluar dari sepak bola dan mengambil futsal karena ia telah dikontrak dengan Porda Kota Bandung. Alasan ia menyukai futsal karena lapangan futsal terdapat di area indoor, sedangkan lapangan sepak bola terdapat di area outdoor. Selain itu, ketika mengikuti pertandingan futsal ia mendapat imbalan seperti uang saku yang bisa ia gunakan untuk membeli perlengkapan futsalnya. Tetapi alasan utamanya yaitu, sejak ia mengikuti berbagai perlombaan futsal, ia selalu mendaftar sekolah sejak jenjang SMP sampai dengan perguruan tinggi melalui jalur prestasi. Bahkah saat ini di Telkom University ia mendapat beasiswa hingga lulus S1.

Berikut ini adalah berbagai  prestasi yang telah di raih hingga saat ini oleh RIzky yaitu :
1. Juara 1 talenta School in smp category of futsal competition 2013
2. Juara 1 O2SN lombat jauh Putra 2016
3. Menjadi Top Scorer futsal championship 2016 regional Bandung
4. Juara 2 Pocari Sweat Futsal Championship 2016
5. Juara 3 PERINDO CUP 2017
6. Juara 1 PERINDO CUP 2017
7. Juara 2 Liga Mahasiswa futsal 2017
8. Peringkat 2 liga mahasiswa futsal 2017

Setelah banyak kejuaraan yang di raihnya harapan dan impiannya adalah ia dapat mewakili Indonesia ke tingkat internasional dan dapat terus membanggakan orangtua membawa nama Jawa Barat dan Telkom University, khususnya jurusan Ilmu Komunikasi. Ia selalu ingat satu kata yang selalu memotivasinya yaitu ingin membanggakan keluarga.

Wah ternyata banyak sekali ya, prestasi yang telah di raih  dari teman kita ini semoga Rizky dapat terus mengembangkan bakatnya dan dapat tercapai impiannya, semoga kita semua dapat termotivasi oleh Rizki.

Thursday, August 16, 2018

Kemerdekaan yang Bermakna

Dirgahayu Indonesia, 17 Agustus 1945 pada hari itulah kita, bangsa Indonesia melepas diri, ideologi dan harga diri dari genggaman bangsa asing yang sudah lama merampas itu semua dari tangan kita. Merdeka atau mati, kata-kata itulah yang selalu tertulis di dinding seluruh penjuru kota sebagai pelampiasan rasa bangga dan suka cita bangsa Indonesia, mungkin memang itulah yang terjadi pada saat kita berjuang untuk merdeka, harga yang perlu dibayar ialah nyawa. Nyawa yang dimaksud ialah nyawa kita dalam pertumpahan darah dan dalam pemikiran. Seluruh anggota tubuh dalam satu individu termasuk hati ikut turut berjuang demi kemerdekaan.

Namun apakah makna dari kemerdekaan itu sendiri? Apakah dengan tidak hadirnya senjata yang dipegang dengan gagahnya oleh bangsa asing di Indonesia ini, sudah meliputi seluruh makna dari kemerdekaan itu? Jawabannya tentu tidak. Apalah artinya merdeka jika berjabat tangan dengan orang yang berbeda suku saja segan? Apalah artinya jika kita masih saja malu dengan budaya kita sendiri sedangkan kita menerima budaya asing dengan lapang dada? Kadang kita meremehkan hal kecil seperti itu yang sebenarnya akan menjadi fondasi kuat untuk keberlangsungan kemerdekaan negara kita ini, asalkan kita mau merubah hal kecil seperti itu. Tidak perlu mengikuti komunitas atau organisasi masyarakat yang bergerak untuk perubahan di negara ini untuk merubah hal kecil seperti itu, mulai lah dari diri sendiri, biasakan perubahan itu dalam diri sendiri hingga menjadi bagian dari diri sendiri dan contohkan pada teman-teman yang lain seperti apa perubahan yang telah kamu lakukan.

Apa artinya kemerdekaan ini semakin menua tetapi kita sebagai bangsa Indonesia tidak dapat mengetahui, merasakan dan menjalakan makna yang sesungguhnya dari kemerdekaan itu sendiri. Makna kemerdekaan itu hanya satu, terus berjuang untuk menjadi lebih baik bersama-sama, karena perjuangan kemerdakaan tidak akan pernah berhenti. Merubah hal kecil bukan berarti takut untuk mengahadapi hal yang lebih besar, itu berarti kamu berusaha menata jati diri kamu sebagai anak bangsa yang baik tanpa harus mencari dan menelan bulat-bulat ideologi orang lain. Ketika hal kecil seperti sudah bukan lagi menjadi permasalahan yang signifikan di negara ini, maka terbentuklah fondasi yang kuat untuk negara ini lebih menghargai kemerdekaan yang telah kita raih 73 tahun yang lalu. Ketika itu pula kita dapat memaknai kemerdekaan itu dengan lebih baik lagi dalam menjalani kehidupan sehari-hari di tanah air tercinta ini.

Thursday, May 31, 2018

Hari Pancasila dan Hari Kesaktian Pancasila, beda loh!!


Halo ikommers!

Udah pada tau kan, kalau sejak tahun lalu 1 Juni ditetapkan sebagai hari libur nasional? 1 Juni ditetapkan sebagai hari libur nasional oleh Presiden Jokowi lewat keputusan presiden nomor 24 tahun 2016 tentang hari lahir Pancasila.
Tapi, ikommers sudah tau belum, bedanya hari Kesaktian Pancasila dan Hari Pancasila?
Hari Kesaktian Pancasila berkaitan dengan peristiwa G30S/PKI yang terjadi pada 30 September 1965. Peristiwa usaha PKI untuk mengubah unsur Pancasila menjadi komunis sebagai ideologi negara. Pembantaian pun dilakukan terhadap 6 jenderal dan 1 kapten sebagai upaya kudeta. Namun pada akhirnya hal ini bisa diredam oleh otoritas militer Indonesia. Oleh karena itu, pemerintah menetapkan tanggal 30 September sebagai hari peringatan G30S/PKI dan 1 Oktober sebagai hari kesaktian Pancasila.

Sedangkan Hari Pancasila berkaitan dengan lahirnya Pancasila. Tanggal 1 Juni dipilih sebagai hari Pancasila karena penetapan hari Pancasila mengacu pada siding Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) pada 29 Mei – 1 Juni 1945. Istilah Pancasila diperkenalkan oleh Sukarno dalam pidatonya pada tanggal 1 Juni 1945.
Rumusan yang dibacakan oleh Sukarno berbeda dengan Pancasila yang kita kenal sekarang. Dasar negara yang saat itu disampaikan Sukarno adalah Kebangsaan, Internasionalisme atau perikemanusiaan, Mufakat atau demokrasi, Kesejahteraan sosial, dan Ketuhanan Yang Maha Esa. Setelah itu, dibentuk kembali panitia kecil yang bertugas untuk merumuskan kembali Pancasila yang dijabarkan oleh Sukarno. Panitia tersebut bernama Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI).
PPKI yang terdiri dari 9 orang sempat merumuskan Piagam Jakarta. Namun Piagam Jakarta sempat ditolak oleh perkilan dari Indonesia Timur. Pada 18 Agustus 1945 barulah ditetapkan Pancasila yang kita kenal sekarang yang berbunyi:

1.      Ketuhanan Yang Maha Esa
2.      Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab
3.      Persatuan Indonesia
4.      Kerakyatan Yang Dipimpin Oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan dan Perwakilan
5.      Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia


Sumber:



Monday, March 26, 2018

Kenalan Sama Kaprodi Baru Yuk!

                          

Hallo Ikommers!

Sudah tau dong, beberapa waktu lalu kita baru aja punya kaprodi baru? yap, kaprodi kita yang baru adalah Bapak Freddy Yusanto. Pada kepo gak sih? ingin tau lebih dekat dengan beliau? Yuk, simak artikel berikut ini!

Freddy Yusanto, atau biasa dipanggil Pak Freddy, per tanggal 1 Februari 2018 telah resmi menjadi Kepala Program Studi Ilmu Komunikasi Telkom University Bandung, menggantikan Bu Rah Utami Nugrahani atau yang sering kita sapa sebagai Bu Hani. Pak Freddy memiliki latar belakang pendidikan di bidang Broadcasting (D3 Komunikasi Universitas Gadjah Mada), Komunikasi Massa(S1 Komunikasi Universitas Padjadjaran) dan Desain Komunikasi Visual (S2 Institut Teknologi Bandung).

Pak Freddy adalah dosen yang mempunyai keahlian di bidang Broadcasting Televisi, dengan latar belakang praktisi di bidang Pertelevisian, Production House dan Advertising. Mengawali karirnya pada umur 22 tahun, bekerja sebagai Asst Cameraman in Out Door Production Division Indosiar Visual Mandiri – Jakarta pada tahun 1998. Pada tahun 1999 sebagai Studio Head LNG TV di Bontang Kalimantan Timur. Tahun 2000 bekerja di sebuah Advertising di Bandung sebagai Production Manager, sebagai Supervisor Post Production di PH Animasi Red Rocket Animation Bandung pada tahun 2001, serta sebagai Operational Manager di Production House Manajemen Qolbu Televisi (MQTV) Bandung dari 2002-2007. Saat bekerja di PH inilah, beliau telah banyak membuat program TV dan bekerjasama dengan hampir semua TV swasta nasional saat itu, sehingga pengalaman inilah yang seringkali dibagikan kepada mahasiswanya. Pak Freddy kemudian memiliki sebuah PH yang fokus mengerjakan TV Commercial dan Company Porfile serta memberikan pelatihan-pelatihan terkait dunia Fotografi dan Videografi. Beberapa perusahaan swasta maupun BUMN telah menjadi kliennya pada saat itu (2006-2010).

Sejak tahun 2010, beliau mulai mendedikasikan waktunya untuk mengajar. Awalnya mengajar di DKV IM Telkom (saat itu), kemudian pada tahun 2012 bergabung dengan Prodi Ilmu Komunikasi dan pada tahun 2015 beliau resmi menjadi dosen tetap di Prodi Ilmu Komunikasi Telkom University. Beliau pernah menjadi Pembina Forum Film Telkom periode 2014 dan 2017, juga hingga saat ini sebagai Pembina Ikom Channel, sebuah komunitas Lab. Broadcast Prodi Ilmu Komunikasi Telkom University.
Sebagai seorang yang pernah berkecimpung di dunia industri, pak Freddy selalu menanamkan kedisiplinan kepada mahasiswanya, terutama jika berhubungan dengan deadline sebuah pekerjaan. The show must go on, adalah prinsip kerja yang selalu disampaikan kepada mahasiswanya. Menanamkan rasa tanggungjawab dan totalitas dalam menghasilkan sebuah karya, saling menghormati dalam sebuah team work dan bersikap terbuka dalam menerima masukan adalah gaya beliau mendidik mahasiswanya.

Wah, ternyata banyak sekali pengalaman dan prestasi yang dimiliki Pak Freddy. Semoga sekilas cerita pak Freddy dapat memotivasi dan menginspirasi kita semua, agar kita dapat lebih baik lagi dalam belajar dan berkarya 😊